Wednesday, June 29, 2016

Doraemon = Jepang

Doraemon*)
aku ingin begini aku ingin begitu
ingin ini ingin itu banyak sekali
semua semua semua dapat dikabulkan
dapat dikabulkan dengan kantong ajaib

aku ingin terbang bebas di angkasa
hei, baling-baling bambu ...
La.. La.. La.. aku sayang sekali
Doraemon

Petikan lagu di atas selalu mengingatkanku dengan masa kecilku yang riang dan penuh canda. Doraemon sudah menjadi temanku sejak aku belum tau bangku sekolah hingga kini. Kartun besutan Fujiko F Fujio ini mengisahkan persahabatan antara Nobita, seorang anak kelas 4 SD - sampai sekarang masih juga belum naik kelas dan Doraemon - robot kucing masa depan yang kental dengan kehidupan dan budaya Jepang.

Itulah kali pertama aku mengenal Jepang sebagai tempat tinggalnya si Emon (doraemon.red). Jepang bagiku berarti Doraemon dan Doraemon itu ya ada di Jepang. Begitulah aku menyukai negara ini sebagai negerinya Doraemon dan aku pun bermimpi suatu saat akan kesana dengan satu tujuan utama, mengunjungi museum Fujiko F Fujio sang maestro, pencipta karakter Doraemon.

Museum ini terletak di kota Kawasaki, Kanagawa Prefecture, Jepang. Di dalamnya, kita dapat melihat karya-karya tokoh ciptaan dari Fujiko F Fujio. Sebelum ke sana, kita harus membeli tiket di Lawson dan menentukan waktu kedatangan. Jika terlambat, maka kita tidak akan bisa masuk ke museum. Berikut tempat-tempat yang rencananya akan saya kunjungi bila ke sana.

bus menuju museum dari Stasiun Noborito**)
Penampakan depan Museum Fujiko F Fujio**)

Lokasi wajib foto**)
makanan yang wajib dibeli nanti**)
buah tangan incaran**)

Selain Doraemon, satu kartun yang aku sukai ialah Conan. Kartun ini menceritakan kisah anak SMA bernama Sinichi Kudo yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata sampai ia berhasil memecahkan sejumlah kasus kriminal (pembunuhan) dan dijuluki detektif SMA terkenal dari Barat. Suatu hari, Sinichi bertemu dengan para gengster dan ketahuan, sampai-sampai ia terpaksa meminum racun yang membuat tubuhnya mengecil. Untuk mencari obat penawar, akhirnya Sinichi mengubah identitasnya menjadi Conan.

Inilah kali selanjutnya aku jatuh hati pada Jepang. Beberapa tempat ini seringkali dikunjungi Conan saat memecahkan kasus-kasus yang pelik.

Gunung Fuji dan Sakura**)
Tokyo Tower - merah di antara putih**)

 Semoga, beberapa tahun mendatang bisa kesana setelah ke Mekkah. Aamiin.


*) foto by me
**) foto by net

Tuesday, June 21, 2016

Sendal untuk Ayah

Sendal jepit*)
Suatu hari, seorang gadis kecil tengah jalan berdua bersama ayahnya ke sebuah pusat perbelanjaan. Saat baru memasuki mall itu, mereka tampak kontras dengan pengunjung lainnya. Tak nyana, beberapa pasang mata pun melirik mereka dengan penuh tanya.

Bila orang lain mengenakan pakaian terbaiknya seperti baju baru, sepatu baru, celana baru maka lain halnya dengan si gadis kecil dan sang ayah.  Si gadis kecil hanya mengenakan kemeja putih yang warnanya mulai menguning dengan celana panjang hitam yang mulai pudar dengan bando berpita merah di atas kepalanya. Sementara ayahnya menggunakan jaket yang sudah robek di bagian bahu, berpeci, dan bersendal jepit.

Bukan tanpa alasan mereka datang ke tempat tersebut. Sang ayah, mengantarkan anaknya yang akan mengikuti lomba membaca puisi di tempat tersebut. Namun sebelum lomba itu berlangsung, tiba-tiba ...

"Ehh, sendal jepit ayah putus, nak", kata ayah sambil melihat ujung sendal jepitnya yang putus.

"Loh, kok bisa yah? terus gimana dong?" tanya si anak sambil mengernyitkan dahi, kebingungan.

"Entahlah, ayah juga gak tau. Yaudah kita ke atas saja dan kamu harus ikuti lombanya dengan baik," pinta ayah sambil tersenyum.

Singkat cerita, si anak mengikuti lomba itu dan meraih juara ketiga. Hadiahnya uang tunai sebesar 75 ribu Rupiah yang pada tahun 90-an nilainya masih tergolong cukup besar.

"Selamat ya, nak. Meski tak berhasil dapat juara pertama tapi menjadi tiga besar sudah pencapaian yang sangat baik. Ayah bangga padamu," ujar ayah seraya memeluk dan mencium kening sang anak.

"Makasih, yah," balas sang anak.

"Ayo kita ke toko, kamu bilang kamu ingin membeli tas baru bila kamu memenangkan uang tunai itu kan?" tanya sang ayah

"Tidak, yah. Ini uang untuk ayah saja. Ayah lebih membutuhkan uang ini untuk membeli sendal baru untuk ayah kenakan hari ini dibanding membeli tas baru di sini," ungkap sang anak.

Kisah anak gadis yang lebih memilih memberikan uangnya kepada ayahnya mengajarkan kita akan arti keinginan dan kebutuhan. Si gadis kecil yang sebenarnya menginginkan sebuah tas baru ternyata memilih untuk mendahulukan kebutuhan sendal ayahnya dibanding keinginannya.

Sama halnya dengan sebuah kesederhanaan. Sederhana mengajarkan untuk mendahulukan kebutuhan dibanding keinginan. Sederhana mengajarkan untuk mendahulukan kebutuhan primer dibanding keinginan tersier sebab dengan hidup sederhana membuatmu bahagia berapapun jumlah rezeki yang kamu peroleh.

Hidup sederhana sebenarnya mudah dilakukan hanya saja terkadang justru kita yang membuatnya sukar untuk dijalani

*) source by net