Sunday, September 28, 2014

Scout Nasa

Tenda kami (kiri) saat Jambore Cabang di Bumi Perkemahan Curug, Tangerang
John Ruskin, seorang kritikus seni dan pemikir sosial dari Inggris (1819 – 1900) mengatakan: “Taste is the only morality. Tell me what you like and I'll tell you what you are.” Kita adalah apa yang kita sukai. Kita dikenal karena citarasa kita. Citarasa seperti apa yang kita sukai? Di situlah terletak nilai moral kita.

Mungkin ungkapan tersebut bisa menggambarkan apa yang aku sukai sejak duduk di bangku sekolah dasar. Aku suka Berorganisasi. Aku suka dengan segala aturan dalam organisasi karena disitu kita bisa belajar mana yang haram dan yang halal eh maksud saya mana kewajiban dan mana hak.

Nah, organisasi pertama yang aku geluti sejak masih imut itu PRAMUKA. Saat ini jarang sekali aku melihat anak-anak menekuni organisasi ini. Yah, budaya barat telah mengakar kuat. Jadilah anak-anak sekarang lebih terlena dengan main play station/game, getol ikut-ikutan ajang pencarian bakat, gemar alay-alayan nonton acara musik atau sinetron yang tidak sesuai usianya. 

Padahal berorganisasi itu bisa mengajarkan berbagai hal. Pramuka contohnya, dari Persami (perkemahan sabtu-minggu), aku belajar mandi sendiri mandiri, belajar bersosialisasi, belajar tinggal jauh dari orang tua dan paling utama belajar jadi pemimpin. Memang belum belajar jadi pemimpin orang lain, tetapi kami diajarkan bahwa setiap manusia adalah pemimpin dalam dirinya sendiri. Ah, aku ingat waktu SD aku bisa jadi peserta Persami terbaik kala itu. Haha ^^

Memasuki kelas menengah, saat orientasi, pementasan aksi kumpulan anak lelaki dan perempuan berbaju coklat itu menggugahku. Yel-yel, gerakan-gerakan atraktif ditampilkan. Ditambah lagi ada seseorang yang antusias memukul drum. Setelah itu ia lihay berantraksi turun hanya dengan satu tali dari atas menara. Tanpa pikir panjang, aku kembali tertarik masuk organisasi ini.

Ini menara Selamat Datang yang tingginya sekitar 5 meter
Alhasil aku bergabung di SCOUT NASA atau Pramuka Negeri Satu selama dua tahun aktif (di tahun ketiga dilarang aktif oleh pelatih karena harus konsentrasi ikut ujian nasional). Ohya, Pasukan Kami bernama Permadi (nama kecil Arjuna .red) dan Srikandi mewakili tokoh pewayangan yang memiliki karakter berani, jujur serta tampan dan cantik. Sementara nama regu kami yaitu Mimosa Pudica atau nama ilmiah tanaman Putri Malu (untuk kelompok perempuan), dan Impeesa atau Srigala yang tak pernah tidur (untuk kelompok lelaki).

Pasukan Permadi-Srikandi sedang melakukan atraksi yel-yel
Ciri khas kami yakni topi lebar berwarna biru, tongkat rotan (tidak boleh bambu) berukuran 160cm dengan bendera berlambang bunga mimosa pudica dan srigala, kemeja (coklat muda) dan bawahan (coklat gelap) berbahan bukan katun (seperti bahan kanvas), kaos kaki hitam di atas mata kaki (perempuan) dan sebetis (lelaki) serta sepatu hitam-putih (starone/converse).

Cerita selama bergabung disini tak dapat ku jelaskan secara detail. Pasalnya setiap minggu kami ikut lomba di berbagai tempat. Tangerang jangan ditanya, Jabodetabek sudah pasti jadi langganan keikursertaan kami. Sementara di luar itu, Bandung seingatku paling jauh. Bagiku menang-kalah itu sudah biasa. Historia Vitae Magistra, Sejarah (pengalaman) ialah guru yang terbaik. 

Ada yang berani tengah malam kesini?
Tak terhitung sudah berapa banyak prestasi yang dipersembahkan untuk almamater tercinta. Trophi tertinggi kami berukuran 2 meter. Saking banyaknya trophi yang kami miliki, pernah suatu kali teman-temanku malah membuatnya bagaikan pion bowling. Trophi-trophi disejajarkan lalu dilempar menggunakan bola, sampai jatuh. Tak butuh waktu lama sampai akhirnya mereka semua dihukum oleh pelatihku.

Jika ditanya pengalaman paling mengesankan, aku pasti bingung karena bagiku setiap hal yang aku lakukan di Scout Nasa itu mengesankan. Setiap detik berharga untuk belajar. Baik dari teknik kepramukaan, teknik bertahan hidup, maupun teknik berorganisasi. 

Jabatan terakhirku di Scout Nasa sebagai penanggung jawab tekpram  a.k.a teknik kepramukaan. Minimal seluruh teknik-teknik dasar tali-temali, simpul-simpul, sejarah kepramukaan, teknik P3K sampai lagu-lagu pendek dianggap sudah aku kuasai. Alhasil, sewaktu sudah menjadi alumni, pada waktu sekolahku mengadakan lomba Pramuka, aku ditunjuk sebagai panitia yang bertanggung  jawab pada pos tekpram

Presentasi teknis pelaksanaan lomba di pos tekpram
Ketika aku duduk di kelas dua es em pe, aku pun pernah ikut serta dalam Jambore cabang hingga Jambore Nasional di Purwokerto. Faktor genetik berpengaruh. Ibuku nyatanya waktu kecil pun sempat mencicipi Jambore cabang di kampung halamannya. Berbekal copy sertifikat Jamnas, aku pun lolos pmdk pada universitas negeri di Banten. Ah, nostalgia.

Ada yang bisa menebak aku yang mana? Hee ^^

3 comments:

  1. eluu yang paling ujung jauhh sanaa.. gilak serius amat itu muka lo iin >__<

    ReplyDelete
  2. *ahem* iin, mau sekedar berbagi aja sih...

    In 1906 and 1907 Robert Baden-Powell, a lieutenant general in the British Army, wrote a book for boys about reconnaissance and scouting.

    jadi, pramuka juga dari barat... hehe...

    Salam damai! Cepet sembuh ya *kiss

    ReplyDelete
    Replies
    1. yap, budaya barat telah mengakar kuat bukan lagi memilih kepanduan yang kaya ilmu tetapi memilih budaya lainnya yang minim ilmu. Hahahahaa *ngeles kaya bajaj

      Btw, apa lo sudah pernah baca buku itu? Yakali udah terus ntar ceritain ke gw, suseh banget dulu nyarinya.. hahhaaa :D

      Delete