Wednesday, June 29, 2016

Doraemon = Jepang

Doraemon*)
aku ingin begini aku ingin begitu
ingin ini ingin itu banyak sekali
semua semua semua dapat dikabulkan
dapat dikabulkan dengan kantong ajaib

aku ingin terbang bebas di angkasa
hei, baling-baling bambu ...
La.. La.. La.. aku sayang sekali
Doraemon

Petikan lagu di atas selalu mengingatkanku dengan masa kecilku yang riang dan penuh canda. Doraemon sudah menjadi temanku sejak aku belum tau bangku sekolah hingga kini. Kartun besutan Fujiko F Fujio ini mengisahkan persahabatan antara Nobita, seorang anak kelas 4 SD - sampai sekarang masih juga belum naik kelas dan Doraemon - robot kucing masa depan yang kental dengan kehidupan dan budaya Jepang.

Itulah kali pertama aku mengenal Jepang sebagai tempat tinggalnya si Emon (doraemon.red). Jepang bagiku berarti Doraemon dan Doraemon itu ya ada di Jepang. Begitulah aku menyukai negara ini sebagai negerinya Doraemon dan aku pun bermimpi suatu saat akan kesana dengan satu tujuan utama, mengunjungi museum Fujiko F Fujio sang maestro, pencipta karakter Doraemon.

Museum ini terletak di kota Kawasaki, Kanagawa Prefecture, Jepang. Di dalamnya, kita dapat melihat karya-karya tokoh ciptaan dari Fujiko F Fujio. Sebelum ke sana, kita harus membeli tiket di Lawson dan menentukan waktu kedatangan. Jika terlambat, maka kita tidak akan bisa masuk ke museum. Berikut tempat-tempat yang rencananya akan saya kunjungi bila ke sana.

bus menuju museum dari Stasiun Noborito**)
Penampakan depan Museum Fujiko F Fujio**)

Lokasi wajib foto**)
makanan yang wajib dibeli nanti**)
buah tangan incaran**)

Selain Doraemon, satu kartun yang aku sukai ialah Conan. Kartun ini menceritakan kisah anak SMA bernama Sinichi Kudo yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata sampai ia berhasil memecahkan sejumlah kasus kriminal (pembunuhan) dan dijuluki detektif SMA terkenal dari Barat. Suatu hari, Sinichi bertemu dengan para gengster dan ketahuan, sampai-sampai ia terpaksa meminum racun yang membuat tubuhnya mengecil. Untuk mencari obat penawar, akhirnya Sinichi mengubah identitasnya menjadi Conan.

Inilah kali selanjutnya aku jatuh hati pada Jepang. Beberapa tempat ini seringkali dikunjungi Conan saat memecahkan kasus-kasus yang pelik.

Gunung Fuji dan Sakura**)
Tokyo Tower - merah di antara putih**)

 Semoga, beberapa tahun mendatang bisa kesana setelah ke Mekkah. Aamiin.


*) foto by me
**) foto by net

Tuesday, June 21, 2016

Sendal untuk Ayah

Sendal jepit*)
Suatu hari, seorang gadis kecil tengah jalan berdua bersama ayahnya ke sebuah pusat perbelanjaan. Saat baru memasuki mall itu, mereka tampak kontras dengan pengunjung lainnya. Tak nyana, beberapa pasang mata pun melirik mereka dengan penuh tanya.

Bila orang lain mengenakan pakaian terbaiknya seperti baju baru, sepatu baru, celana baru maka lain halnya dengan si gadis kecil dan sang ayah.  Si gadis kecil hanya mengenakan kemeja putih yang warnanya mulai menguning dengan celana panjang hitam yang mulai pudar dengan bando berpita merah di atas kepalanya. Sementara ayahnya menggunakan jaket yang sudah robek di bagian bahu, berpeci, dan bersendal jepit.

Bukan tanpa alasan mereka datang ke tempat tersebut. Sang ayah, mengantarkan anaknya yang akan mengikuti lomba membaca puisi di tempat tersebut. Namun sebelum lomba itu berlangsung, tiba-tiba ...

"Ehh, sendal jepit ayah putus, nak", kata ayah sambil melihat ujung sendal jepitnya yang putus.

"Loh, kok bisa yah? terus gimana dong?" tanya si anak sambil mengernyitkan dahi, kebingungan.

"Entahlah, ayah juga gak tau. Yaudah kita ke atas saja dan kamu harus ikuti lombanya dengan baik," pinta ayah sambil tersenyum.

Singkat cerita, si anak mengikuti lomba itu dan meraih juara ketiga. Hadiahnya uang tunai sebesar 75 ribu Rupiah yang pada tahun 90-an nilainya masih tergolong cukup besar.

"Selamat ya, nak. Meski tak berhasil dapat juara pertama tapi menjadi tiga besar sudah pencapaian yang sangat baik. Ayah bangga padamu," ujar ayah seraya memeluk dan mencium kening sang anak.

"Makasih, yah," balas sang anak.

"Ayo kita ke toko, kamu bilang kamu ingin membeli tas baru bila kamu memenangkan uang tunai itu kan?" tanya sang ayah

"Tidak, yah. Ini uang untuk ayah saja. Ayah lebih membutuhkan uang ini untuk membeli sendal baru untuk ayah kenakan hari ini dibanding membeli tas baru di sini," ungkap sang anak.

Kisah anak gadis yang lebih memilih memberikan uangnya kepada ayahnya mengajarkan kita akan arti keinginan dan kebutuhan. Si gadis kecil yang sebenarnya menginginkan sebuah tas baru ternyata memilih untuk mendahulukan kebutuhan sendal ayahnya dibanding keinginannya.

Sama halnya dengan sebuah kesederhanaan. Sederhana mengajarkan untuk mendahulukan kebutuhan dibanding keinginan. Sederhana mengajarkan untuk mendahulukan kebutuhan primer dibanding keinginan tersier sebab dengan hidup sederhana membuatmu bahagia berapapun jumlah rezeki yang kamu peroleh.

Hidup sederhana sebenarnya mudah dilakukan hanya saja terkadang justru kita yang membuatnya sukar untuk dijalani

*) source by net

Wednesday, June 15, 2016

Lagu Kenangan Masa Kecil

 
anime 90-an *)

Pada medio tahun 90-an, setiap Minggu pagi, seorang gadis kecil berada di depan televisi sejak pukul 06.30 WIB. Kadang ia terlihat tengah duduk, kadang ia tiduran sambil sesekali memakan setoples cemilan yang dibawanya dari dapur. Lalu, ia pun mulai menikmati anime kesayangannya.

xxxx xxx xx

Bersatu dengan angin
Larilah mimpi-mimpiku
Ku tak akan pernah menyerah
Winning Run


xxxxx xxxxxx xxxx

Wangi angin
Padang rumput di sore hari
Sampaikan salam
Gembira…


xxxxxxxx

Kita hidup di bumi ini
Pagi ini esok dan seterusnya
Masa indah sangat banyak kota impian…


xxxxxx xxxx

Cahaya cinta perlahan menyilaukan
Itulah mimpi kehidupan kedua
Mimpi itu dari mana datanganya


xxxxxxx

Kata kata yang indah tidaklah perlu

sungguh menyenangkan hati hingga waktupun terlupakan

Planet venus yang indah seperti dari emas

tempat yang paling indah yang pernah kau antar

xxxxx xxxxxx

Mendaki gunung lewati lembah
Sungai mengalir indah ke Samudra
Bersama teman bertualang

xxxxxxxxx

Maaf ku tak pernah berterus terang
Bukan ku tak mempercayaimu
Namun sebelum ku berganti rupa
Ingin aku menemuimu
 

xxxxxx

Tuk ku tuk lewat lorong sempit
Tuk ku tuk Hamtaro berlari
Apa yang paling dia senangi
Biji bunga matahari

xxxxxxxx

I want to change the world ...
change my mind ...
it's wonderland

Sejumlah petikan lirik lagu di atas selalu menemani si gadis cilik itu hingga ia tumbuh remaja. Berbeda dengan medio tahun 2010'an dimana anak-anak masa kini lebih erat dengan kartun-kartun dari Melayu, masa kecil era 90'an menurutku lebih lekat dengan budaya Jepang. Gadis cilik itu ialah aku. Kenangan indah pada petikan lagu dalam film-film ini selalu membuatku merasa kembali ke masa kecilku yang menyenangkan dan penuh semangat.

Ada yang masih ingat petikan lirik film anime apa saja di atas?
Silahkan ketik jawaban di kolom komentar. Siapa yang paling cepat dan tepat menjawab semuanya akan aku berikan satu buah coklat sebagai ucapan terima kasih, hehe.. ^^
(Quizdadakan)

*) by net

Wednesday, June 8, 2016

C I N T A

Love is like a tree *)
"Assalamualaikum... Teman-teman mohon doanya ya. Ita lagi 'liburan' di RS nih krn DBD dr Sabtu kemarin. Akram (anakku) jg dirawat dr Kamis. Alhamdulillah Akram udh bs pulang kmrn."

Teks via whatsup dari Ita, seorang teman sekolahku seolah memecah keheningan di group whatsup LBB 2002 Selasa (10/6) lalu. Kaget, aku dan sejumlah temanku langsung membalas teks itu dan mendoakannya supaya ia lekas sehat. Ita pun masih mengatakan dimana ia dirawat, "RSUD kab Bogor skrg," katanya.

Seorang rekan lainnya, Cindy tetiba nyeletuk, "kapan-kapan ketemuan donggg... Rindu sangatt." Ajakan ini spontan membuat para anggota group whatsup bergairah kembali sampai Ita mengucapkan "Kumpul aja mumpung gue sakit. Dokternya ganteng Cin di sini. Ga rugi2 amat deh sakit :P," celotehnya.

Hari itu memang terasa beda, Ita yang biasanya jarang aktif di group whatsup kami seolah ceria meski tengah dihadapkan pada sakit DBD yang dideritanya. Ia seperti 'agak memaksa' kami menjenguknya kala itu, Ita seperti 'ngajak ngumpul' untuk bertemu dengannya. 

Ia selalu berusaha tampak ceria meski sempat mengatakan beberapa keluhannya karena larangan dokter. "Gue mah onta. Minum sekali teguk 600 ML. Jadi pipis terus. Diomelin ama dokter krn turun tempat tidur melulu dan disuruh pake pampers. Skali pipis di pampers, pampersnya langsung bocor. Dokternya baru 'diam' :D."

Untuk sejenak melupakan kondisinya, aku berupaya mengalihkan pembicaraan.
"Novitaaaa..km tau Aan Mansyur? Penulis Tidak Ada New York Hari ini?
"Oh penyair puisi2 di AADC 2 In?"
"iyaaa :D :D :D"
"Kenapa say emang dgn Aan M?"
"Foto gw dipake buat instagram dy (emoticon tutup mata). Duhh maap gw pamer - lagi seneng."
"Serius???keren banget ;)"
Aduh disini sinyal E melulu sih. Ita ga bs liat instagram jdnya." 

Ita dan aku sejak sekolah sama-sama menyukai sastra. Kami sama-sama pecinta puisi dan kami juga sering ikut lomba puisi saat sekolah dulu. Jadi, aku merasa Ita menjadi satu-satunya yang tau tentang sastra dan wajib memberitahu kabar bahagia ini.

Beberapa hari kemudian, tepat pada Jum'at (13/6), sebuah teks kembali masuk di group whatsup. "Assalamualaikum. Sy suami (Ita) Novita Kusuma Dewi. Sy mau menyampaikan bahwa istri sy saat ini sedang dirawat dirawat di RS marzoeki Mahdi Bogor. Kondisi sering kejang sambil mata melotot, mengeluarkan busa dr mulut, dan menggigit lidah. Tidak sadar dan tidak mengenali orang. Tangan dan kaki harus diikat. Mohon doa dr teman2 semua utk kesembuhan (Ita) Novita Kusuma Dewi."

Shock. "Taa..kmrn masih wassapan ama kitaa, sehat sehat ta..kita semua sayang kamu," tulisku. Aku lemes, tak tau harus berkata apa. Aku dan beberapa dari kami pun langsung merencanakan menjenguk Ita di rumah sakit untuk melihat kondisinya. Namun sayang, rencanaku untuk menjengulknya gagal karena ada urusan lain. Cindy dan Atika lah yang menjenguk dan bertemu Ita meski hanya satu menit di ruang HCU.

Sabtu (14/6), suami Ita kembali mengabari kami. "Posisi Novita Kusuma Dewi (Ita) saat ini berada di HCU RST Dompet Dhuafa. Kondisi Ita saat sedang sangat tidak baik, bahkan bisa dikatakan koma. Kemungkinan berhenti bernapas pun masih ada. Setelah dilakukan CT Scan, kemungkinan besar mengidap meningitis. Kita hanya bisa berikhtiar dan berdoa utk kesembuhan dan kesehatan Ita. Semoga Allah mengabulkan doa kita. Aamiin." 

Bingung, kaget, bercampur jadi satu. Bagaimana bisa diagnosis awal DBD berubah drastis menjadi Meningitis? Aku yang hanya orang awam cuma bisa mengucap istigfar sambil mengelus dada dan berpikir. "why?"

Kamis (19/6), sebuah pesan gambar masuk kembali ke group kami. Atika, seorang temanku mengirimkan gambar bertuliskan "Innalillahi wa innailaihi rajiun. Telah berpulang ke Rahmatullah salah satu alumnus terbaik dari Dik JBSI angkatan 2006, Novita Kusuma Dewi..." Sontak, berita ini membuat kami semua berduka, duka yang amat dalam hingga tak mampu terlukiskan. "gw gbs contact suami Ita buat mastiin. (T.T) (T.T) (T.T), Ini bener ga sih? Ya Allah...," ungkap Atika.
L.O.V.E **)

Cinta untuk Ita

Setelah kepergian Ita, aku benar-benar merasakan apa itu Cinta. Pertanyaan klise yang mudah ditanyakan tetapi sulit terdefinisikan. Cinta itu abstrak karena sulit diungkapkan. Cinta itu konkrit karena dapat dibuktikan. Tapi bagiku, Cinta itu Fitrah, suci dan murni penuh ketulusan, baik Cinta kepada makhluk maupun Cinta pada Tuhan, Sang Pemilik Cinta.

Cinta itu Pengorbanan. Cinta tidak melulu diagungkan bagi manusia tetapi Cinta ialah anugerah bagi seluruh makhluk yang ada di dunia ini. Cinta tak mengenal kasta, tak kenal ras, tak kenal jenis. Bahkan kadang cinta membuat seorang makhluk lupa segalanya. Atas nama cinta mereka rela melakukan apapun demi membuat yang dicintainya bahagia. Demi Cinta juga seseorang rela mengorbankan harta bahkan nyawa agar cinta itu bermakna, agar yang dicintainya (dianggap) bahagia. 

Cinta itu Perjuangan. Cinta bagaikan menanam dan merawat sebuah pohon. Ia akan tumbuh dengan baik bila kita berjuang dengan menyiram dan memupuknya secara rutin. Cinta juga layaknya kedua orang tua yang merawat dan membesarkan anaknya. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang baik bila kedua orang tuanya berjuang membesarkannya sepenuh hati,  penuh kasih sayang.

Cinta itu Tulus. Bila makna suka hanya sekedar menuntut, sayang cuma berupa aktivitas memberi-menerima, maka Cinta bermakna memberi dengan ikhlas tanpa pamrih. Cinta untuk Ita tak akan mungkin dapat dihitung dengan kalkulator secanggih apapun. Seberapa besar pengorbanan, perjuangan, dan ketulusan suami dan keluarga Ita yang telah berupaya semaksimal mungkin membuat Ita sehat dan ceria kembali seperti sedia kala. 

Bila seseorang tengah mencinta, jagalah cintamu. Perjuangkan cintamu dan jangan lepaskan. Cintai dan sayangilah orang terdekatmu saat ini karena saat yang dicintai itu tiada, barulah kamu akan merasakan benar-benar cinta yang sebenar-benarnya. Meskipun kamu tak mampu mengungkapkan apa itu cinta, tapi kamu bisa membuktikannya dengan perbuatan atau cukup dengan mendoakan kebahagiaan mereka.

Cinta yang hakiki bukan sekedar Cinta Sehidup Semati tetapi Cinta yang Sehidup Sesurga. Cinta yang sejati hanyalah cinta pada Sang Pemilik Cinta. Cintailah makhluk-Nya tetapi jangan melebihi cintamu pada-Nya.



*)http://marvelouswallpapers.com/love-tree-hd-wallpapers-updated/
**)https://plus.google.com/106391444870769617408

Monday, May 30, 2016

Bukan Sekedar Cinta

kucing kawin eh kucing nikah *)

Seringkali muncul sebuah pertanyaan manakah yang lebih kamu pilih, "Mencintai orang yang menikahimu atau menikahi orang yang kamu cintai?" atau bahasa sederhananya haruskah cinta menjadi alasan kamu menikah dengan seseorang?

Bila pertanyaan ini dilayangkan padaku, tentu saja saat ini aku lebih memilih mencintai orang yang menikahiku.

Alasannya sederhana, bagiku yang seorang perempuan, tidak ada seseorang yang benar-benar mencintaimu sampai ia berani membuktikannya dengan datang ke rumahmu, memintamu secara baik-baik kepada kedua orangtuamu lalu, mengucap ijab-qabul di depan ayahmu. Bukan sekedar berani mengatakan aku cinta padamu-maukah kamu menjadi pacarku? Nonsense, abaikan saja dia atau lebih baik lupakan orang seperti itu.

Dasarnya, psikologi laki-laki dan wanita berbeda karena seorang lelaki lebih mengedepankan logika ketimbang wanita yang lebih mementingkan perasaan. Bila lelaki cuma berani mengatakan 'cinta' tapi tak berani menikahimu, menurutku itu cuma logika yang berjalan. Apakah itu tanda dia benar-benar ingin menjadikanmu halal baginya? Apakah kamu yakin yang dikatakannya saat itu perasaan sejatinya atau cuma emosi sesaat? Lagi-lagi Nonsense. Belum tentu. Tinggalkan aja.

Sementara perempuan yang terlanjur menomorsatukan perasaan menjadi gampang dirayu. Ia akan merasa melayang bagaikan terbang ke langit ketujuh. Terlanjur jatuh hati hingga mencintai si lelaki terlalu dalam sampai akhirnya larut pada rayuan maut tanpa sadar bahwa itu bisa menjebaknya. Lebih buruk, malah bisa saja sekedar dimanfaatkan oleh si lelaki yang memakai logika atau nafsu sesaat.

Tulisan ini bukan bermaksud menghakimi lelaki, bukan pula mencibir perempuan sebagai makhluk lemah tetapi ada filosofi yang mengatakan "Janganlah kamu mencintai seseorang terlalu dalam, karena ketika kamu kehilangannya kamu akan sakit luar biasa." Buktinya, tak sedikit orang yang sampai bunuh diri hanya karena masalah putus cinta atau ditinggalkan orang yang dicintainya. Lebih parahnya, bahkan ada orang yang tega menghabisi hidup orang yang dicintainya hanya karena dia sakit hati atau tidak ingin orang yang dicintainya dimiliki orang lain.

Jadi, menurutku cintailah seseorang tetapi tak melebihi cintamu pada Penciptamu karena Tuhan tak akan pernah meninggalkanmu yang ada malah mungkin justru kita yang terkadang hilaf melupakan-Nya. Satu hal lagi, janganlah mencintai seseorang yang tidak mencintai Tuhanmu karena bila mereka saja bisa meninggalkan-Nya, bukan tidak mungkin ia akan mudah meninggalkanmu. Terakhir, cintailah seseorang yang menikahimu karena Allah bukan karena wajahmu, bukan karena kepintaranmu, dan bukan karena hartamu.


*) created by me waktu belajar ilustrasi

Thursday, May 26, 2016

Cutie Cats Cafe: Seolah Mimpiku Nyata

Cutie Cats Cafe*
Apakah kamu pecinta kucing sepertiku tapi tidak memiliki kesempatan untuk memeliharanya? Jangan khawatir karena kini ada Cutie Cats Cafe yang dapat memuaskan dahagamu akan keimutan kucing-kucing dari berbagai ras, seperti Persia, Himalayan, Bengals, Maine Coon, Scottish Fold, dan Lokal.

Hadir di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, Cutie Cats Cafe bisa ku katakan bagai surga kecilnya pecinta kucing. Mengapa tidak? Disini kalian bisa bermain, membelai, mengelus, bercengkrama, makan bersama, bahkan selfie dengan kucing-kucing nan imut dan menggemaskan.

Saat weekday, pengunjung dikenakan Harga Tiket Masuk (HTM) sebesar 55k/jam dengan penambahan sekitar 38k/jam berikutnya. Namun saat weekend, pengunjung harus merogoh kocek agak dalam sebesar 75k/jam. HTM ini belum termasuk food and beverages dan juga belum termasuk makanan kucingnya (optional).

Lagi-lagi menurutku, HTM ini terbayar dengan keimutan kucing-kucing yang memang terpilih karena mereka sudah jinak, pelukable (mudah dipeluk), dan ciumable (gemes untuk dicium). Hehehe ^^

Bulu-bulu kucing yang ada disini sangat lembut sampai-sampai si bulu akan mudah berterbangan dan menempel pada pakaian kalian. Sedikit saran, bila tidak ingin bulu menempel di pakaian, maka kalian harus mengenakan pakaian yang bahannya tidak mudah tertempel bulu, seperti beludru, katun kombat atau wol.
Cuties cat cafe from another side*
Seolah jadi nyata

Tak ada kata selain menenangkan sekaligus menyenangkan. Kesukaanku akan kucing sejak balita membuatku seolah bernostalgia ketika dulu menghabiskan waktuku dengan seekor kucing bahkan tidur bersamanya. Memoarku seolah tersibak ketika si Manis, almarhumah kucingku masih berada disisiku dan selalu menemani hari-hariku.
Beberapa kucing yang menggemaskan*
Memang ku akui, sejak si Manis pergi meninggalkanku, seolah duniaku runtuh (Fyi, si Manis pergi setelah anaknya Pushy ketabrak mobil tetanggaku). Sejak itu, aku tak lagi memelihara seekor kucing pun. Aku sengaja menyibukkan diri dengan segudang aktivitas lainnya demi move on dari si Manis.

Namun, berkat Cutie Cats Cafe seolah ada yang berbeda, seolah mimpiku menjadi nyata. Aku memang bermimpi dapat memelihara sejumlah kucing dari berbagai ras. Menyayangi mereka, memeluk mereka setiap hari ku rasa dapat menenangkanku, bahkan membantuku menghilangkan stress. Untuk saat ini, aku memang belum bisa memeliharamu, tapi mungkin suatu saat nanti ya. Aamiin. 

Me and si sombong tapi gemecin*

Makasih sudah menemani ya, Girls, ^^



*) foto koleksi pribadi


Tuesday, May 17, 2016

Impianku

Chairil Anwar*

Gadis berkulit coklat berambut panjang itu hendak mewawancarai seorang pria berambut keriting yang baru saja memenangkan lomba puisi di sekolahnya. Saat sang gadis pengelola mading itu berbicara dengan si pria dan memintanya untuk diwawancarai, sang pria menolak karena ia tidak pernah merasa mengirimkan puisinya. 

Perdebatan mulut pun tak terelakkan. Emosi tak tertahankan. Tak pelak, mereka saling saut-menyaut dengan nada suara tinggi. Sang pria tetiba urung melanjutkan pertengkaran sia-sia tersebut. Ia pun langsung berlalu. Tanpa sengaja, sebuah buku bertajuk "Aku" karya Suman Djaja, terjatuh. Sang gadis pun lantas memungut buku yang menceritakan menceritakan kisah hidup Chairil Anwar dengan pengemasan yang puitis tersebut lalu membawanya pulang.

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang pun kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Mungkin, memoar kejadian itu lekat sekali dengan generasi tahun 90-an. Kisah Cinta dan Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta yang dirilis pada tahun 2002 itu sukses mengantarkan puisi menjadi salah satu hal yang amat menarik perhatian, terutama wanita di zaman itu. Bahkan beberapa waktu lalu, kala sekuel film yang sama dirilis, puisi masih menjadi bagian yang tak luput menjadi unsur kekuatan cerita.

Sejak kanak-kanak, aku mengenal puisi sebagai salah satu seni pertunjukkan yang dipentaskan di atas panggung. Bila ku tak salah ingat, seorang guru pernah mempercayakan diriku membawakan sebuah puisi bertajuk "Guru" saat perpisahan sekolah. Seolah terpatri sejak masa kecil. Aku tumbuh dengan kegemaran pada puisi. Sampai-sampai aku ingin menjadi seorang sastrawati.

Berbagai perlombaan puisi kadang tak absen ku ikuti sejak kecil. Tak peduli menang atau kalah. Asal sudah membacakannya, hati ini rasanya tak terbantahkan. Lega tak berkesudahan. Senang bagai mendapatkan kue gratis sekaligus takut bagai melihat kecoa terbang. Campur-aduk tapi indah.

Kegemaranku pada salah satu seni sastra ini membuatku sangat menyukai mata pelajaran bahasa Indonesia. Aku pun pernah berpikir untuk membuat terobosan, membuat satu kelas bahasa saat bersekolah menengah atas. Tapi takdir berkata lain. Jumlah peminat kelas itu sangat sedikit sehingga tak memungkinkan dibuka kelas.

Satu-satunya jalan agar aku dapat mewujudkan mimpi menjadi sastrawati ialah masuk jurusan Sastra Indonesia saat melanjutkan pendidikan tinggi. Lagi-lagi, keinginan tak sejalan dengan takdir Tuhan. Meski beberapa kali mengikuti pre-test SMPB (sekarang SNMPTN) di tempat kursus dan selalu lolos, ternyata orang tuaku mentah-mentah menolak inginku. Aku dilarang mengambil kuliah sastra yang menjadi impianku saat itu.

Impianku yang dulu memang sudah pudar. Saat ini aku hanya ingin membuat orang lain tersenyum atau bahkan tertawa bila berbicang denganku. Aku yang kini lebih bahagia bila melihat orang lain bahagia. Membuat guyonan segar, celotehan yang tak bermaksud menyinggung tetapi tetap hangat. Sepertinya, menjadi pelawak mungkin bisa jadi salah satu dream job di masa depan nanti. Let see.

*)https://bahrurrosyididuraisy.wordpress.com/puisi-chairil-anwar/